Invasi alien
Apalah arti orang lain bagi dirimu?
Terkecuali ia bertalian darah atau terikat oleh eratnya perjumpaan di masa lampau, bukan tidak mungkin nihil nilainya.
Kuingin jujur mengingkari kemunafikan yang mengatur mekanisme tata cara manusia berinteraksi.
Tapi ku tetap ingin bertutur kata tanpa tatapan membinasakan mereka.
- R.U.S
31/03/2006
20:47
St Lucia
Brisbane, Queensland
Australia
Aku bosan.
Bukan dengan hidup. Apalagi dengan keadaan. Justru kedua hal itu yang seringkali bagai awan kelabu dan acapkali singgah memendungkan hatiku kini berubah layaknya pelangi yang timbul sesudah hujan yag deras.
Aku bosan.
Dengan diriku sendiri. Bukan karena ia tetap stagnan. Justru belakangan ini diriku seperti waktu yang berubah-ubah tak terbendung walaupun sekuat tenaga kita kerahkan untuk berkompromi dengannya.
Saya heran, bingung, bimbang, marah, sedih, kesal, takut, berharap, percaya. Semua emosi itu seringkali menjustifikasi satu sama lain namun bukan sekali dua kali saja ia justru mejadi kontradiksi.
Sedari kecil, ayah mengajarkanku menjadi lelaki yang berharga diri, berani, dan melindungi keluarga. Di sisi lain, ibuku mendidikku sebagai anak yang ingin tau akan segala hal, mencari segala kemungkinan itu, dan menjadi seorang pandai.
Ketika beranjak pada awal usia remaja, kenyataan berbicara lain. Keberanian besar dan harga diri tinggi yang kupunya ternyata tidak seberapa. Dan kalau dipikir-pikir memang salahku menantang sekelompok anak-anak remaja yang lebih tua dan juga lebih banyak saat mereka mengusili temanku sambil mendemonstrasikan ego dasar kaum adam. Selanjutnya, menjadi anak pandai dan berprestasi yang dulu diagung-agungkan ternyata juga bukan sebuah posisi yang menarik. Toh, yang ditengok disini adalah gel dan sepatu yang kamu pakai ke sekolah setiap harinya.
Di puncak usia remaja, kusadar akan jalan yang kutempuh selama ini bukan hitam maupun putih. Setapak berwarna abu-abulah dimana kita menginjak dan melewati waktu. Tapi aku senang. Karena berarti aku bisa saja bukanlah aku. Aku bisa saja menjadi dia untuk sesaat di suatu tempat, seterusnya aku dapat menjadi dia yang lain di tempat yang lain. Rupanya, inilah yang membuatku sangat diterima orang. Wuiih, alangkah bahagianya seekor lebah yang menemukan sarang madunya ini.
Di awal masa dewasa, dimana tanggung jawab meningkat secara drastis minus penyediaan sandang, pangan, papan bagi seorang diri. Aku sudah belajar banyak sekali mengenai manis, pahit, asamnya hidup. Sadar ini baru sepercik garam di tengah lautan, ku justru semakin enggan untuk menghadapi masa depan.
Saya heran, bingung, bimbang, marah, sedih, kesal, takut, berharap, percaya.
Kenapa?
Karena sekarang seorang atau sesuatu telah mengambil badanku dan bertingkah semaunya membiarkanku sebagai penonton di kursi VIP pertunjukannya.
Terkecuali ia bertalian darah atau terikat oleh eratnya perjumpaan di masa lampau, bukan tidak mungkin nihil nilainya.
Kuingin jujur mengingkari kemunafikan yang mengatur mekanisme tata cara manusia berinteraksi.
Tapi ku tetap ingin bertutur kata tanpa tatapan membinasakan mereka.
- R.U.S
31/03/2006
20:47
St Lucia
Brisbane, Queensland
Australia
Aku bosan.
Bukan dengan hidup. Apalagi dengan keadaan. Justru kedua hal itu yang seringkali bagai awan kelabu dan acapkali singgah memendungkan hatiku kini berubah layaknya pelangi yang timbul sesudah hujan yag deras.
Aku bosan.
Dengan diriku sendiri. Bukan karena ia tetap stagnan. Justru belakangan ini diriku seperti waktu yang berubah-ubah tak terbendung walaupun sekuat tenaga kita kerahkan untuk berkompromi dengannya.
Saya heran, bingung, bimbang, marah, sedih, kesal, takut, berharap, percaya. Semua emosi itu seringkali menjustifikasi satu sama lain namun bukan sekali dua kali saja ia justru mejadi kontradiksi.
Sedari kecil, ayah mengajarkanku menjadi lelaki yang berharga diri, berani, dan melindungi keluarga. Di sisi lain, ibuku mendidikku sebagai anak yang ingin tau akan segala hal, mencari segala kemungkinan itu, dan menjadi seorang pandai.
Ketika beranjak pada awal usia remaja, kenyataan berbicara lain. Keberanian besar dan harga diri tinggi yang kupunya ternyata tidak seberapa. Dan kalau dipikir-pikir memang salahku menantang sekelompok anak-anak remaja yang lebih tua dan juga lebih banyak saat mereka mengusili temanku sambil mendemonstrasikan ego dasar kaum adam. Selanjutnya, menjadi anak pandai dan berprestasi yang dulu diagung-agungkan ternyata juga bukan sebuah posisi yang menarik. Toh, yang ditengok disini adalah gel dan sepatu yang kamu pakai ke sekolah setiap harinya.
Di puncak usia remaja, kusadar akan jalan yang kutempuh selama ini bukan hitam maupun putih. Setapak berwarna abu-abulah dimana kita menginjak dan melewati waktu. Tapi aku senang. Karena berarti aku bisa saja bukanlah aku. Aku bisa saja menjadi dia untuk sesaat di suatu tempat, seterusnya aku dapat menjadi dia yang lain di tempat yang lain. Rupanya, inilah yang membuatku sangat diterima orang. Wuiih, alangkah bahagianya seekor lebah yang menemukan sarang madunya ini.
Di awal masa dewasa, dimana tanggung jawab meningkat secara drastis minus penyediaan sandang, pangan, papan bagi seorang diri. Aku sudah belajar banyak sekali mengenai manis, pahit, asamnya hidup. Sadar ini baru sepercik garam di tengah lautan, ku justru semakin enggan untuk menghadapi masa depan.
Saya heran, bingung, bimbang, marah, sedih, kesal, takut, berharap, percaya.
Kenapa?
Karena sekarang seorang atau sesuatu telah mengambil badanku dan bertingkah semaunya membiarkanku sebagai penonton di kursi VIP pertunjukannya.

5 Comments:
bagus...banget..cari editor gih..kirim ke majalah remaja (alah!) hehehe but seriously, bagus banget...
kejujuran hati seorang adi** hehehe...
ah, selalu saja menjadi indah ketika makhluk itu singgah di tubuhmu!
untuk peri di suatu sudut pada waktu senja:
trimakasih banyak. pujian oleh penulis skaliber anda sgt memuaskan makhluk bernama manusia yang selalu mendambakan approval.majalah remaja? aneka, gadis, kawanku? seorang pecinta kapital namun pembenci kapitalisme sperti saya harus berkata: "galilah lubang dan disitu aku akan berbaring"
untuk VP World Pervert Association: memang wajah saya yg itu walau sering menghasilkan kegundahan tak perlu namun keaslian emosinya sangat sahih dalam keadaan apapun. makasi utk komennya.
beneran dit, kalo kita berdua bikin buku, mungkin buku gue bakal lebih laris mengingat jaman sekarang manusia Indonesia lg happening baca novel, tapi gue yakin buku lo bakal jauh lebih berbobot dalam isi dan bakal lebih bermanfaat bagi umat manusia, dan umat jakarta pada umumnya...
*ditulis dengan tulus dan sentosa*
*blushing
makasi de utk dukungan dan pujiannya
*still blushing
Post a Comment
<< Home