Zing boom
*Di sebuah kafe toko buku di Jakarta
(sambil tersenyum)
"Ngerjain tugas?"
"Ngga.", jawabnya dengan mata terus terpaku pada layar laptop dan tumpukan buku serta kertas-kertas yang betebaran.
"Jadi, kamu penulis?", tanyaku mempersonakan stereotipi persistensi lelaki dan ketidakpekaannya atas halusnya jawaban "tidak" seorang perempuan.
"Nulis skripsi.", terdengar helaan nafas menyerah pada pertanyaan yang tidak diundang.
"Tentang?"
"Ga menarik, deh."
"Gmana, kalo saya yang menilai soal itu.", kataku sambil menatap kedua mata lelahnya yang terkurung dalam bingkai kaca chicnya.
"Persepsi masyarakat terhadap gender dan implikasinya terhadap peran wanita sebagai penafkah utama keluarga."
"Oh, seorang feminis."
"Seorang mahasiswi yang prihatin dengan sesama spesiesnya......"
(terpotong)
"..... yang semakin menarik seiiring berjalannya waktu."
"Oh, seorang playboy gombal."
Kutertawa.
Dia merebahkan diri di kursi lalu melepas kacamatanya dan meletakkannya diatas coffee table.
Tak bisa kulewatkan jam Patek Philippe berhiaskan berlian yang melingkar di sebelah kanan tangan mungilnya.
Luar biasa jumawa perempuan ini. Merayakan kemenangan sesaat atas dominasinya terhadap harkat paling dasar pria. Ia berpuas diri terlalu cepat.
"Kamu sering ke tempat ini?", kucoba mengganti topik sembari menunjuk kursi meminta persetujuannya untuk duduk semeja dengannya. Ia mengangguk pelan. Begitu pelan kudapat melihat wajahnya dari sepuluh sudut yang berbeda.
Kesemuanya menakjubkan.
"Mayan, tapi ga sesering kamu pick up cewe yang lagi duduk sendirian sibuk melakukan urusannya sendiri."
Sinisme seorang keturunan hawa. Betapa kubenci sekaligus memujanya.
"Saya kesini cuma buat membaca. Menambah ranah ilmu untuk memjawab ribuan pertanyaan hidup di otak saya ini."
"Jadi, kamu berubah profesi jadi filsuf?", tuturnya menyisakan senyuman tipis yang harusnya terlihat sinis entah mengapa bermetamorfosis menjadi sebuah gesture indah di kelimaindraku.
Please, stop putting words in my own mouth. But please, don't stop that appealling verbal abuse your are playing here.
"Mahasiswa jaman sekarang negative thinking ya. Apa karena karena usia saya kurang tua 20 tahun dan tidak berperut buncit?"
"Lihat sekarang siapa yang berpikiran negatif."
"Lho. Saya cuma nanya kok. Tidak perlu ada merasa tersinggungkan?"
"Lalu, selain mendegradasi perempuan muda dengan pertanyaan-pertanyaan. Kamu punya kegiatan lain?"
"Menulis beribu-ribu kata yang dasarnya merupakan kutipan dari orang lain dan berharap menjadikannya realita."
"Wartawan majalah gosip?"
(Kutersenyum, kali ini senyum nyata yang digerakkan kelembutan hati)
"Ngga perlu sarkastik. Saya seorang analis. Analis politik yang menghabiskan energinya membocorkan kelemahan negara ini kepada orang asing."
"Wah, berarti saya baru mendapatkan pembimbing menulis skripsi yang baik rupanya."
"Ya, itu bukan hak saya untuk menentukan. Tapi jika dipaksa, membantu tidak pernah ada salahnya."
(Lantunan lagu "It's So Quiet"-nya Bjork terdengar, rupanya HPnya berbunyi)
"Bentar ya.", ia mengambil tas Anya Hindmarch-nya dan mengeluarkan sebuah PDA Blackberry lalu melihat layarnya. Rupanya sebuah sms.
Sambil menunggunya membalas sms tersebut mataku menyapu lingkungan sekitar dirinya.
Ada dorongan aliran yang begitu deras untuk tahu lebih banyak mengenainya. Seperti pekaknya telinga oleh kerasnya teriakan dalam keheningan, gundahnya hati akan kepastian sebuah kebimbangan, dan silaunya mata oleh secercah sinar dalam kegelapan.
"Chuck Palahniuk tulisannya, gmana sih?", tanyanya tanpa melepaskan pandangan dari PDAnya.
"C-H-U-C-K P-A-L-A-H-N-I-U-K.", kueja satu per satu huruf demi huruf.
"Ok, thanks."
"Kenapa. Mau di puji sebagai seorang intellek ya.", kataku bercanda.
"Bukan. Mau ngetes aja apa bener kamu orang yang suka nongkrong di toko buku untuk baca.", balasnya dengan muka saya-tidak-mau-kalah-dalam-pembicaraan-ini.
"Jangan malu lagi. Emang ga semua orang berbakat spelling.", kumemancingnya sekali lagi.
(Ia tertawa. Tawa asli pertamanya yang kulihat hari ini. Tawa yang berakar dari kelegaan seorang manusia yang sudah lama dikukung rasa humornya oleh letihnya sebuah tanggung jawab.)
"Mau nitip bukunya yang Non-fiction ke temen. Disini belom keluar."
...............
(Hening)
Ia menengadah kepada seorang pria yang baru datang. Melambai kepadanya sambil tersenyum dan memeluknya seperti ia telah menemukan tujuan akhir daripada hidupnya. Kecupan pun mendarat di dahinya.
Ia berbicara pada lelaki itu sambil menunjuk ke meja tempat ia duduk. Tempat aku duduk sekarang.
Ia terlihat pergi dan lelaki itu menghampiriku.
"Halo.", ia berkata sambil menjulurkan tangannya untuk dijabat. "Andi."
"Devan."
"Temen kuliahnya Inta?"
"Bukan. Saya baru ketemu lagi ngebahas buku tadi."
"Ok.", sambil meletakkan remote mobil dengan lambang khas trisula terbalik Mercedes.
"Lo beruntung. Punya cewe yang wawasannya luas.", kuberusaha membuka pembicaraan sekaligus untuk meredakan wajah penuh kecurigaanya.
"Iya. Tapi gw suka ga bisa ngikutin. Dia kalo lagi baca buku kaya ga ada hari besok aja. Heran orang bisa betah banget.", ia berkata sambil membetulkan kerah polo shirt Fred Perry yang dikenakannya.
"Gw mending modif mobil. Ketauan jelas bisa kliatan.", lanjutnya.
Kumenahan rasa mual atas kedangkalan seorang makhluk hidup dan pelecehannya terhadap sumber pengetahuan umat manusia yang paling hakiki.
"Eh, gw mau cari-cari buku lagi ya. Nice to meet you."
"Ok, ok. Yuk."
Kuberjalan melalui lorong-lorong yang diapit rak-rak berisikan buku. Dari balik rak tersebutlah kulihat sang wanita yang telah menghentikan putaran waktu dan mengubah poros berputar bumi selama 2 menit.
Ia kembali ke kafe.
Duduk di pangkuan pacarnya dan merangkulnya.
Dari posisi itulah ia menangkap tatapanku dan membalasnya dengan senyum mengundang.
Menyisakanku bertambahnya satu lagi pertanyaan di otak ini.
Mengapa kita tidak ditakdirkan untuk bersama, sayang?

10 Comments:
wah wah wah keren dit!!!
gue (selalu) suka dengan sarkasme dan kritikan-kritikan sosial lo..
cie cie.. walaupun gue juga tau ini bagian dari self actualization dan self approval lo yg sangat tinggi.. hehehe..
xD
This comment has been removed by a blog administrator.
trimakasih,,
walau susah bgt buat gw utk nulis cerpen dan mencari padanan kata bahasa indonesia yg baku namun indah (maklum ga ada resourcenya di web)hehe.Ekspektasi gw yg rendah akan postingan ternyata salah.
Buat yg lain pls comment ya krn ini cerpen pertama yg gw publish utk umum. Your opinion really would help guys! Thanks a lot
oh ini toh cerpen yg diceritakan oleh si monster..bagus dit *serius* tinggal cari editor aja hehehe...welcome to the club yah!
This.... Wil make a decent book... Decent cause it's incomplete... It'll stand out from all of the crap people try to write nowadays... Dasar manusia sarkastik... the day you'll shut up about these things shall be a clear sign of apocalypse... hahahhaha...
aduh jd malu dipuji seorang penulis berkualifikasi hehehe (pdhl ktawa2 gini gw). thanks de, your opinion means a lot to me.
buat si kolor ade gw, ini buka sarkastik tp realistik. there's a fine line between those two hehhe. thanks for dropping by and commenting bro. jgn pacaran mulu lo ru. ingat bukan muhrim ikuti jejak gw hehehe.. tk care man
sip! kapan2 kita nulis bareng ya, dit! :)
hehe,, it would be my pleasure,de.
hebat!
saya langsung penasaran, ketika mata saya hanya menangkap dua tiga kata dari cerpen-mu ini.
saya tunggu edisi berikutnya.
bo..canggih..serius ni bagus..i wouldn't know your hidden talent if you weren't gave me this to read..mungkin cerita hidup gw bisa jadi ide cerita..hahaha kasi tau lg yang baru yaaaaa..i'll be your fan
Post a Comment
<< Home